BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah kualitas hasil pembelajaran yang
terus mengalami penurunan selalu menjadi wacana yang sangat memilukan,
khususnya untuk pengelola pendidikan. Dan, untuk hal tersebut banyak cara
ditempuh sebagai solusi permasalahan. Tetapi, tetap saja semua itu belum dapat
menyelesaikan permasalahannya.
Setiap tahun pertambahan angka pengangguran
terus meningkat yang disebabkan oleh kenyataan bahwa kualitas diri para lulusan
belum dapat mencapai tingkat maksimal. Mereka lulus sekolah dengan kualitas pas-pasan
sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan, apalagi jika kondisi ekonomi
keluarga sama sekali tidak mendukung keinginan bersekolah lebih lanjut. Jadilah
mereka sebagai lulusan yang menganggur, tidak ada pekerjaan sebab tidak ada
kemampuan di dalam dirinya.
Terkait dengan kondisi tersebut, maka
Pendidikan Kejuruan memberikan alternatif solusi dengan memberikan bekal
kompetensi yang terpakai di dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan bekal inilah,
siswa diharapkan mampu menghadapi kehidupan lebih baik sebab mempunyai
kemampuan untuk bekerja.
Tetapi, di dalam hal ini yang terpenting
adalah bahwa bersekolah bukanlah semata-mata untuk mencari pekerjaan.
bersekolah memang tidak dialokasikan sebagai alat untuk mencari pekerjaan,
melainkan sebagai bekal untuk bekerja dengan cara menciptakan pekerjaan untuk
dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud didaktik ?
2. Apa yang dimaksud pendidikan kejuruan ICT?
3. Bagaimana didaktik pendidikan kejuruan ICT?
C. Tujuan Masalah
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk :
1.
Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan Didaktik
2.
Dapat mengetahui asas-asas apa saja yang harus dimiliki seorang pendidik atau
pengajar.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Didaktik
Didaktik berasal dari
bahasa Yunani “didoskein”, yang berarti pengajaran atau “didaktos”
yang berarti pandai mengajar. Di Indonesia didaktik berarti ilmu mengajar.
Karena didaktik berarti ilmu mengajar, maka pengertian didaktik menyangkut
pengertian yang sangat luas. Dalam kaitan pembicaraan tentang didaktik,
pengertian didaktik akan difokuskan pada bagaimana perlakuan guru dalam proses
belajar mengajar tersebut. Mengajar menurut pengertian modern berarti aktivitas
guru dalam mengorganisasikan lingkungan dan mendekatkannya kepada anak didik
sehingga terjadi proses belajar (Nasution 1935 : 5).
Bertolak dari
pengertian di atas, keberhasilan mengajar tentunya harus diukur dari bagaimana
partisipasi anak dalam proses belajar mengajar dan seberapa jauh hasil yang
telah dicapainya. Dalam menjawab dua permasalahan tersebut, ahli-ahli didaktik
mengarahkan perhatiannya pada tingkah laku guru sebagai organisator proses
belajar mengajar. Maka timbulah prinsip-prinsip didaktik atau asas-asas
mengajar, yaitu kaidah atau rambu-rambu bagi guru agar lebih berhasil dalam
mengajar.
Sebagian para ahli
mengatakan bahwa mengajar adalah menanamkan pengetahuan sebanyak-banyaknya
dalam diri anak didik. Dalam hal ini guru memegang peranan utama, sedangkan
siswa tinggal menerima, bersifat pasif. Pengajaran yang berpusat kepada guru
bersifat teacher centered. Ilmu pengetahuan yang diberikan kepada siswa
kebanyakan hanya diambil dari buku-buku pelajaran, tanpa dikaitkan dengan realitas
kehidupan sehari-hari siswa.Pelajaran serupa ini disebut intelektualistis.
Sebagian para ahli
lainnya mengatakan bahwa mengajar merupakan usaha penyampaian kebudayaan kepada
anak didik. Definisi kedua ini hampir sama maksudnya dengan definisi pertama.
Tentu saja yang diinginkan adalah agar anak mengenal kebudayaan bangsa,
kebudayaan suku dan marganya. Tetapi lebih dari itu diharapkan agar anak didik
tidak hanya menguasai kebudayaan yang ada, tetapi juga ikut memperkaya
kebudayaan tersebut dengan menciptakan kebudayaan baru menurut zaman yang
senantiasa mengalami perubahan.Sebagian para ahli yang lain lagi mengatakan
bahwa mengajar diartikan menata berbagai kondisi belajar secara pantas. Kondisi
yang ditata itu adalah kondisi eksternal anak didik. Termasuk di dalam kondisi
eksternal ini adalah komunikasi verbal guru dengan anak didik.
Dengan demikian,
sesungguhnya kunci proses belajar-mengajar itu terletak pada penataan dan
perancangan yang memungkinkan anak didik dapat berinteraktif. Dengan
berinteraktif maksudnya adalah terjadinya hubungan timbal- balik personal
anak dengan lingkungan. Anak didik dapat berinteraktif dengan
lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Tiap usaha mengajar
sebenarnya ingin menumbuhkan atau menyempurnakan pola laku tertentu dalam
diri peserta didik. Yang dimaksud dengan pola laku adalah kerangka dasar dari
sejumlah kegiatan yang lazim dilaksanakan manusia untuk bertahan hidup dan
untuk memperbaiki mutu hidupnya dalam situasi nyata. Kegiatan itu bisa berupa
kegiatan rohani, misalnya mengamati, menganalisis, dan menilai keadaan dengan
daya nalar. Bisa juga berupa kegiatan jasmani.yang dilakukan dengan tenaga dan
keterampilan fisik.
Umumnya rnanusia
bertindak secara manusiawi apabila kedua jenis kegiatan tersebut dibuat secara
terjalin dan terpadu. Di samping menumbuhkan dan menyempumakan pola laku,
pengajaran juga menumbuhkan kebiasaan. Kebiasaan dapat dirumuskan sebagai
keterarahan, kesiapsiagaan di dalam diri manusia untuk melakukan kegiatan yang
sama atau serupa atas cara yang lebih mudah, tanpa memeras atau memboroskan
tenaga. Kebiasaan akan timbul justru apabila kegiatan manusia, baik rohani
maupun jasmani dilakukan berulang kali dengan sadar dan penuh perhitungan.
B. Pengertian Pendidikan Kejuruan ICT
Pendidikan kejuruan
adalah pendidikan yang menghubungkan, menjodohkan, melatih manusia agar
memiliki kebiasaan bekerja untuk dapat memasuki dan berkembang pada dunia kerja
(industri), sehingga dapat dipergunakan untuk memperbaiki kehidupannya.
Schippers
(1994) mengemukakan bahwa pendidikan
kejuruan adalah pendidikan non akademis yang berorientasi pada praktek-praktek
dalam bidang pertukangan, bisnis, industri, pertanian, transportasi, pelayanan
jasa, dan sebagainya. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN)
No. 20 tahun 2003 pasal 15 menyatakan bahwa pendidikan kejuruan adalah
pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja
dalam bidang tertentu.
Memahami
pendapat di atas dapat diketahui bahwa pendidikan kejuruan berhubungan dengan
mempersiapkan seseorang untuk bekerja dan dengan memperbaiki pelatihan potensi
tenaga kerja. Hal ini meliputi berbagai bentuk pendidikan, pelatihan, atau
pelatihan lebih lanjut yang dibentuk untuk mempersiapkan seseorang untuk
memasuki atau melanjutkan pekerjaan dalam suatu jabatan yang sah. Dapat
dikatakan pendidikan kejuruan (SMK) adalah bagian dari sistem pendidikan
nasional yang bertujuan mempersiapkan tenaga yang memiliki keterampilan dan
pengetahuan sesuai dengan kebutuhan persyaratan lapangan kerja dan mampu
mengembangkan potensi dirinya dalam mengadopsi dan beradaptasi dengan
perkembangan teknologi.
Dalam proses
pendidikan kejuruan perlu ditanamkan pada siswa pentingnya penguasaan
pengetahuan dan teknologi, keterampilan bekerja, sikap mandiri, efektif dan
efisien dan pentingnya keinginan sukses dalam karirnya sepanjang hayat. Dengan
kesungguhan dalam mengikuti pendidikan kejuruan maka para lulusan kelak dapat
menjadi manusia yang bermartabat dan mandiri serta menjadi warga negara yang
mampu membayar pajak.
ICT adalah singkatan dari Information and
Communications Technology atau biasa disebut TIK (Teknologi Informasi dan
Komunikasi).Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk
mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun,
menyimpan,memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi
yang berkualitas. Yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu
yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan
merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Jadi, dapat disimpulkan pengertian pendidikan kejuruan ICT
adalah pendidikan yang mendalami ICT, dengan tujuan untuk mempersiapkan peserta
didik agar dapat bekerja di bidang ICT setelah pendidikan yang ditempuh, atau
tepatnya siap untuk menjadi teknisi di bidang ICT.
C. Didaktik Pendidikan Kejuruan Bidang ICT
Ciri Pembelajaran Pendidikan Kejuruan
Ciri pendidikan kejuruan yang utama adalah
sebagai persiapan untuk memasuki dunia kerja. Secara historis, menurut Evans
& Edwin (1978:36) pendidikan kejuruan sesungguhnya merupakan perkembangan
dari latihan dalam pekerjaan (on the job training) dan pola magang
(apprenticeship).
Pada pola latihan dalam pekerjaan, peserta
didik belajar sambil langsung bekerja sebagai karyawan baru tanpa ada orang
yang secara khusus ditunjuk sebagai instruktur, sehingga tidak ada jaminan
bahwa peserta didik akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan. Walaupun demikian, menurut Elliot (1983:15), pola latihan dalam
pekerjaan memiliki keunggulan karena peserta didik dapat langsung belajar pada
keadaan yang sebenarnya sehingga mendorong dia belajar secara inkuiri.
Pada pola magang terdapat seorang karyawan
senior yang secara khusus ditugasi sebagai instruktur bagi karyawan baru
(peserta didik) yang sedang belajar. Instruktur tersebut bertanggungjawab untuk
membimbing dan mengajarkan pengetahuan serta keterampilan yang sesuai dengan
tugas karyawan baru yang menjadi asuhannya. Dengan demikian pola magang relatif
lebih terprogram dan jaminan bahwa karyawan baru akan dapat memperoleh
pengetahuan dan keterampilan tertentu lebih besar dibanding pola latihan dalam
pekerjaan (Evans & Edwin, 1978:38).
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang makin canggih membawa pengaruh terhadap pola kerja manusia. Pekerjaan
menjadi kompleks dan memerlukan bekal pengetahuan dan keterampilan yang makin
tinggi, sehingga pola magang dan latihan dalam pekerjaan kurang memadai karena
tidak memberikan dasar teori dan keterampilan sebelum peserta didik memasuki lapangan
kerja sebagai karyawan baru. Oleh karena itu kemudian berkembang bentuk sekolah
dan latihan kejuruan yang diselenggarakan oleh sekolah kejuruan bekerja sama
dengan kalangan industri, dengan tujuan memberikan bekal teori dan keterampilan
sebelum peserta didik memasuki lapangan kerja.
Tujuan Pendidikan Kejuruan
Prosser (1949), mengemukakan bahwa pendidikan
kejuruan akan lebih efektif jika mampu merubah individu sesuai dengan
perhatian, sifat dan tingkat intelegensinya pada tingkat setinggi mungkin, artinya
setelah melakukan pendidikan dan pelatihan (diklat) para peserta latihan
meningkat keterampilannya. Acuan keberhasilan suatu program pendidikan kejuruan
menurut pendapat Lesgold (1996), yaitu harus memperhatikan : (1) Sasaran produk
haruslah terdefinisi secara baik, akurat, dan jelas yang merupakan interaksi
yang intens antara sekolah dengan masyarakat, (2) perlengkapan (sarana dan
prasarana) yang dibutuhkan untuk mencapai yang telah ditetapkan haruslah
mencukupi, sehingga merupakan unsur penjamin bahwa sasaran yang telah
ditetapkan dapat dicapai secara baik, (3) spesifikasi tim sukses atau tim
pelaksana program yang akan bertanggung jawab terhadap keberhasilan sasaran
haruslah lengkap dan jelas, (4) penelitian atau pengkajian terus menerus dan
berkesinambungan agar dapat diketahui, sehingga langkah perbaikan dan
penanggulangan dapat ditetapkan segera.
UUSPN No. 20 tahun 2003 pasal 15, menyatakan
pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk menyiapkan peserta didik terutama
untuk bekerja dalam bidang tertentu. Tujuan tersebut dapat dijabarkan lagi oleh
Dikmenjur (2003) menjadi tujuan umum dan tujuan khusus, sebagai berikut :
Tujuan umum, sebagai bagian dari sistem pendidikan menengah kejuruan SMK bertujuan
: (1) menyiapkan peserta didik agar dapat menjalani kehidupan secara layak, (2)
meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik, (3) menyiapkan peserta didik
agar menjadi warga negara yang mandiri dan bertanggung jawab, (4) menyiapkan
peserta didik agar memahami dan menghargai keanekaragaman budaya bangsa
Indonesia, dan (5) menyiapkan peserta didik agar menerapkan dan memelihara
hidup sehat, memiliki wawasan lingkungan, pengetahuan dan seni.
Tujuan khusus, SMK bertujuan : (1) menyiapkan peserta didik agar dapat bekerja, baik
secara mandiri atau mengisi lapangan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan
industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah, sesuai dengan bidang dan
program keahlian yang diminati, (2) membekali peserta didik agar mampu memilih
karir, ulet dan gigih dalam berkompetensi dan mampu mengembangkan sikap
profesional dalam bidang keahlian yang diminati, dan (3) membekali peserta
didik dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) agar mampu mengembangkan
diri sendiri melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Jadi
pendidikan kejuruan adalah suatu lembaga yang melaksanakan proses pembelajaran
keahlian tertentu beserta evaluasi berbasis kompetensi, yang mempersiapkan
siswa menjadi tenaga kerja setingkat teknisi (Wakhinuddin S).
Substansi
dari pendidikan kejuruan harus menampilkan karakteristik pendidikan kejuruan
yang tercermin dalam aspek-aspek yang erat dengan perencanaan kurikulum, yaitu
:
- Orientasi (Orientation)
Kurikulum
pendidikan kejuruan telah berorientasi pada proses dan hasil atau lulusan.
Keberhasilan utama kurikulum pendidikan kejuruan tidak hanya diukur dengan
keberhasilan pendidikan peserta didik di sekolah saja, tetapi juga dengan hasil
prestasi kerja dalam dunia kerja. Finch dan Crunkilton (1984 : 12) mengemukakan
bahwa : Kurikulum pendidikan kejuruan berorientasi terhadap proses (pengalaman
dan aktivitas dalam lingkungan sekolah) dan hasil (pengaruh pengalaman dan
aktivitas tersebut pada peserta didik).
- Dasar kebenaran/Justifikasi (Justification)
Pengembangan
program pendidikan kejuruan perlu adanya alasan atau justifikasi yang jelas.
Justifikasi untuk program pendidikan kejuruan adalah adanya kebutuhan nyata
tenaga kerja di lapangan kerja atau di dunia usaha dan industri. Dasar
kebenaran/justifikasi pendidikan kejuruan menurut Finch dan Crunkilton (1984 :
12), meluas hingga lingkungan sekolah dan masyarakat. Ketika kurikulum
berorientasi pada peserta didik, maka dukungan bagi kurikulum tersebut berasal
dari peluang kerja yang tersedia bagi para lulusan.
- Fokus (Focus)
Fokus
kurikulum dalam pendidikan kejuruan tidak terlepas pada pengembangan
pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu, tetapi harus secara simultan
mempersiapkan peserta didik yang produktif. Finch dan Crunkilton (1984 : 13)
mengemukakan bahwa : Kurikulum pendidikan kejuruan berhubungan langsung dengan
membantu siswa untuk mengembangkan suatu tingkat pengetahuan, keahlian, sikap
dan nilai yang luas. Setiap aspek tersebut akhirnya bertambah dalam beberapa
kemampuan kerja lulusan. Lingkungan belajar pendidikan kejuruan mengupayakan di
dalam mengembangkan pengetahuan peserta didik, keahlian meniru, sikap dan nilai
serta penggabungan aspek-aspek tersebut dan aplikasinya bagi lingkkungan kerja
yang sebenarnya.
Seluruh
kemampuan tersebut di atas, dapat dikuasai oleh peserta didik melalui pengalaman
belajar yang diberikan, yaitu berupa rangsangan yang diaplikasikan baik pada
situasi kerja yang tersimulasi lewat proses belajar mengajar di sekolah maupun
situasi kerja yang sebenarnya pada dunia usaha atau industri (pembelajaran di
dunia kerja). Dari hasil belajar atau kemampuan yang telah dikuasai diharapkan
dapat memberikan kontribusi pada pengembangan diri peserta didik, sehingga
mereka mampu bekerja sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri.
- Standar keberhasilan di sekolah (In-school success standards)
Kriteria
untuk menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan kejuruan diukur dari
keberhasilan peserta didik di sekolah, mengenai beberapa aspek yang akan dia
masuki. Penilaian keberhasilan pada peserta didik di sekolah harus pada
penilaian sebenarnya atau kemampuan melakukan suatu pekerjaan. Dengan kata lain
bahwa dalam standar keberhasilan sekolah harus berhubungan erat dengan
keberhasilan yang diharapkan dalam pekerjaan, dengan kriteria yang digunakan
oleh guru dengan mengacu pada standar atau prosedur kerja yang telah ditentukan
oleh dunia kerja (dunia usaha dan dunia industri).
- Standar keberhasilan di luar sekolah (Out-of school success standards)
Penentu
keberhasilan tidak terbatas pada apa yang terjadi di lingkungan sekolah.
Standar keberhasilan di luar sekolah berkaitan dengan pekerjaan atau kemampuan
kerja yang biasanya dilakukan oleh dunia usaha atau dunia industri. Menurut
Starr (1975), bahwa : Walaupun standar keberhasilan beragam antar sekolah dan
antar Negara, tetapi keberhasilan tersebut seringkali mengambil bentuk kepuasan
pegawai dengan keahlian lulusan, suatu persentase tinggi lulusan yang
mendapatkan pekerjaan di bidang persiapan atau dalam bidang yang berhubungan,
kepuasan kerja lulusan, kemajuan yang dialami lulusan.
Sebagai
contoh, untuk menentukan keberhasilan di luar sekolah yang sudah dilakukan pada
SMK adalah dengan dilaksanakannya uji level untuk kelas X dan XI, serta uji
kompetensi untuk kelas XII yang dilakukan oleh dunia usaha atau industri
berdasarkan standar kompetensi nasional sesuai bidang keahlian.
Standar
kelulusan di luar sekolah (out-of school success standards) dilakukan oleh
dunia usaha dan industri yang mengacu pada standar kompetensi sesuai bidang
keahlian atau produk yang dihasilkan oleh masing-masing industri.
- Hubungan kerja sama dengan masyarakat (School-community relationships)
Suatu
usaha pendidikan harus berhubungan dengan masyarakat, demikian pula dengan
pendidikan kejuruan memiliki tanggung jawab di dalam mempertahankan hubungan
yang kuat dengan berbagai bidang keahlian yang berkembang di masyarakat.
Pengertian
msyarakat yang dimakasud adalah dunia usaha dan dunia industri. Penyelenggaraan
pendidikan kejuruan harus relevan dengan tuntutan kerja pada dunia usaha atau
industri, maka masalah hubungan antara lembaga pendidikan dengan dunia usaha
atau industri merupakan suatu ciri karakteristik yang penting bagi pendidikan
kejuruan.
Perwujudan
hubungan timbal balik berupa kesediaan dunia usaha atau industri, menampung
peserta didik untuk mendapat kesempatan pengalaman belajar di lapangan kerja
atau industri, merupakan bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.
- Keterlibatan pemerintah pusat (Federal involvement)
Keterlibatan
pemerintah pusat ini berkaitan dengan dana pendidikan yang akan dialokasikan,
karena hal ini akan mempengaruhi kurikulum. Misalnya : Ketentuan jam pengajaran
kejuruan tertentu dan jenis perlengkapan tertentu yang digunakan di bengkel
atau laboratorium dapat membantu perkembangan suatu tingkat kualitas yang lebih
tinggi.
- Kepekaan (Responsivenenss)
Komitmen
yang tinggi untuk selalu berorientasi ke dunia kerja, pendidikan kejuruan harus
mempunyai ciri berupa kepekaan atau daya suai terhadap perkembangan masyarakat
pada umumnya, dan dunia kerja pada khususnya. Perkembangan ilmu dan teknologi,
inovasi dan penemuan-penemuan baru di bidang produksi dan jasa, besar
pengaruhnya terhadap perkembangan pendidikan kejuruan. Untuk itulah pendidikan
kejuruan harus bersifat responsif proaktif terhadap perkembangan ilmu dan
teknologi, dengan upaya lebih menekankan kepada sifat adaptabilitas dan
fleksibilitas untuk menghadapi prospek karir peserta didik dalam jangka
panjang.
- Logistik
Kurikulum
pendidikan kejuruan dalam implementasi kegiatan pembelajaran perlu didukung
oleh fasilitas beajar yang memadai, karena untuk mewujudkan situasi belajar
yang dapat mencerminkan situasi dunia kerja secara realistis dan edukatif,
diperlukan banyak perlengkapan, sarana dan perbekalan logistik. Bengkel kerja
dan laboratorium adalah kelengkapan utama dalam sekolah kejuruan yang harus ada
sebagai fasilitas bagi peserta didik di dalam mengembangkan kemampuan kerja
sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri.
Kebutuhan
untuk koordinasi program kejuruan yang bekerja sama dengan industri di
masyarakat, berhubungan erat untuk menjalin dan mempertahankan pusat kerja bagi
peserta didik menunjukkan suatu susunan unit permasalahan logistik.
- Pengeluaran (Expense)
Pengeluaran
rutin sebagai biaya pendidikan pada pendidikan kejuruan yang menunjang kegiatan
pembelajaran, mencakup biaya listrik, air, pemeliharaan dan penggantian
peralatan, biaya transportasi ke lokasi/industri (tempat praktek kerja/magang)
yang jauh dari sekolah. Di samping itu, peralatan harus diperbaharui secara
periodik juga guru berharap untuk memberikan pengalaman belajar yang sebenarnya
bagi peserta didik sebagaimana layaknya di industri, maka ini bisa menjadi
mahal. Yang terakhir yang juga harus menjadi perhatian adalah pembelian bahan
habis sebagai bahan praktikum yang digunakan secara rutin sesuai dengan program
keahlian yang dikembangkan pada SMK masing-masing.
Dari
uraian mengenai karakteristik pendidikan kejuruan yang disarikan dari Finch dan
Crunkilton (1984) di atas, dapat dijadikan acuan di dalam pengembangan
kurikulum pendidikan kejuruan di Indonesia. Kurikulum pendidikan kejuruan yang
dikembangkan di Indoneisa seyogianya mengacu pada karakteristik sebagai berikut
:
a.
Pendidikan kejuruan diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki
lapangan kerja.
b.
Pendidikan kejuruan didasarkan atas kebutuhan dunia kerja.
c.
Fokus isi pendidikan kejuruan ditekankan pada penguasaan pengetahuan,
keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
d.
Penilaian yang sesungguhnya terhadap kesuksesan peserta didik harus pada
“hands-on” atau performance dalam dunia kerja.
e.
Hubungan yang erat dengan dunia kerja merupakan kunci keberhasilan
pendidikan kejuruan.
f.
Pendidikan kejuruan yang baik adalah responsif dan antisipatif terhadap
kemajuan teknologi.
g.
Pendidikan kejuruan lebih ditekankan pada “learning by doing” .
h.
Pendidikan kejuruan memerlukan fasilitas yang mutakhir untuk praktek
sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Didaktik berasal dari bahasa Yunani “didoskein”,
yang berarti pengajaran atau “didaktos” yang berarti pandai mengajar. Di
Indonesia didaktik berarti ilmu mengajar. Karena didaktik berarti ilmu
mengajar, maka pengertian didaktik menyangkut pengertian yang sangat luas.
Dengan demikian, sesungguhnya kunci proses belajar-mengajar itu terletak pada
penataan dan perancangan yang memungkinkan anak didik dapat berinteraktif.
Dengan berinteraktif maksudnya adalah terjadinya hubungan timbal- balik
personal anak dengan lingkungan. Anak didik dapat berinteraktif dengan
lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Tiap usaha mengajar
sebenarnya ingin menumbuhkan atau menyempurnakan pola laku tertentu dalam diri
peserta didik. Yang dimaksud dengan pola laku adalah kerangka dasar dari
sejumlah kegiatan yang lazim dilaksanakan manusia untuk bertahan hidup dan
untuk memperbaiki mutu hidupnya dalam situasi nyata. Kegiatan itu bisa berupa
kegiatan rohani, misalnya mengamati, menganalisis, dan menilai keadaan dengan
daya nalar. Bisa juga berupa kegiatan jasmani.yang dilakukan dengan tenaga dan
keterampilan fisik. Di samping menumbuhkan dan menyempumakan pola laku,
pengajaran juga menumbuhkan kebiasaan. Kebiasaan dapat dirumuskan sebagai
keterarahan, kesiapsiagaan di dalam diri manusia untuk melakukan kegiatan yang
sama atau serupa atas cara yang lebih mudah, tanpa memeras atau memboroskan
tenaga. Kebiasaan akan timbul justru apabila kegiatan manusia, baik rohani
maupun jasmani dilakukan berulang kali dengan sadar dan penuh perhitungan.
Prinsip mengajar adalah suatu aturan yang berlaku bagi
seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Prinsip-prinsip tersebut
disebut dengan asas-asas didaktik. Dengan demikian prinsip-prinsip tersebut
harus diketahui dan dipahami serta dapat diterapkan oleh guru atau calon guru agar
dapat mengajar dengan baik dan berhasil sesuai dengan tujuan.
Motivasi belajar erat kaitannya dengan tujuan yang
hendak dicapai oleh individu yang sedang belajar itu sendiri. Bila seseorang
yang sedang belajar menyadari bahwa tujuan yang hendak dicapai berguna atau
bermanfaat bagi dirinya, maka motivasi belajar akan muncul dengan kuat.
Motivasi belajar ini ada yang timbul dari dalam diri siswa sendiri (motivasi
intrinsik). Motivasi intrinsik disebut juga motivasi murni, karena muncul dari
diri siswa sendiri. Oleh karena itu, guru sedapat mungkin harus berusaha untuk
memunculkan motivasi intrinsik di kalangan siswa
Pada waktu
mengajar guru harus memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk mengambil
bagian yang aktif baik rohani maupun jasmani terhadap pengajaran yang
diberikan, secara perorangan maupun kelompok. Yang dimaksud keaktipan jasmani
adalah berbagai kegiatan yang dilakukan murid seperti kesibukan melakukan
penelitian, percobaan, membuat konstruksi model, bercocok tanam dan sebagainya.
Dalam peragaan ada maksud dan tujuan yang hendak
dicapai yakni, memberikan variasi dalam cara-cara kita mengajar, memberikan
lebih banyak realitas dalam mengajar itu, sehingga lebih berwujud, lebih
terarah untuk mencapai tujuan pelajaran. Tak ada dua anak yang sama disebabkan
oleh perbedaan pembawaan lingkungan. Salah satu perbedaan ialah taraf intelegensi
anak-anak, yang dinyatakan dengan IQ. Faktor lain yang turut menyebabkan
perbedaan adalah keadaan rumah, lingkungan sekitar rumah, pendidikan, kesehatan
anak, makanan, usia, keadaan sosial ekonomi orang tua, dan lain-lain. Pada
umumnya prinsip individualitas ini masih kurang mendapat perhatian di sekolah
kita.
Cara mengajar terutama brbentuk ceramah yang
menyamaratakan semua murid. Kelas yang besar dan kekurangan-kekurangan
alat-alat juga merupakan halangan untuk mewujudkan Undang-undang Dasar kita
yang menyatakan bahwa setiap anak berhak berkembang sesuai dengan bakat
masing-masing. Sekolah tak lepas dari masyarakat. Sekolah didirikan masyarakat
untuk mendidik anak menjadi warga negara yang berguna dalam masyarakat. Tetapi
disamping itu masyarakat atau lingkungan dapat pula merupakan laboratorium dan
sumber yang penuh kemungkinan untuk memperkaya pengajaran. Itu sebab itu,
setiap guru harus mengenal masyarakat serta lingkungannya dan menggunakannya
secara fungsional dalam pelajarannya. Manusia adalah makhluk individu sekaligus
makhluk sosial . Pendidikan mengantarkan siswa agar menjadi manusia seutuhnya
maupun menjadi makhluk yang secara individu bertanggung jawab pada didrinya,
keluarga, dan bangsanya dengan memiliki pengetahuan, ketrampilan, moral
ketaqwaan dan mempunyai komitmen pada bangsa dan negara, sekaligus jadi makluk
sosial yang demokratis, toleran dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
B. Saran
Menguasai asas-asas didaktik belum merupakan
suatu jaminan bahwa seseorang dengan sendirinya akan menjadi guru yang baik.
Mengajar itu sangat kompleks dan dipengaruhi oleh macam-macam faktor lain
pribadi guru sendiri, suasana kelas, hubungan antar-manusia, keadaan sosial
ekonomi negara, organisasi kurikulum dan sebagainya. Dengan didaktik atau ilmu
mengajar akan memberikan prinsip-prinsip tentang cara-cara menyampaikan bahan
pelajaran sehingga dikuasai dan dimiliki oleh anak-anak. Prinsip yang dikemukan
adalah motivasi, aktivitas, peragaan, individualitas, lingkungan, dan
kerjasama. Akan tetapi seseorang pasti tidak akan menjadi guru yang baik kalau
guru tersebut mengabaikan asas-asas didaktik. Oleh sebab itu, didaktik sangat
perlu dikembangkan dan dipelajari oleh kita sebagai calon pendidik.
Kita sebagai calon pendidik harus tahu apa itu
didaktik. Apa saja prinsip-prinsip didaktik. Karena dengan belajar didaktik
kita dapat memahami setiap karakter peserta didik. Dengan memahami karakter
peserta didik , kita bisa tahu beberapa karakter dan cara untuk mengatasi sifat
dan sikap siswa. Sebagai calon pendidik kita juga diberikan pengarahan.
Bagaimana cara mengajar yang baik, serta apa saja yang harus kita lakukan dan
kita terapkan dalam suasana belajar-mengajar. Supaya kondisi kelas tetap
nyaman. Ada banyak alternativ untuk selalu menciptakan suasana yang nyaman.
Yaitu dari diri kita dulu, sebagai pendidik kita tidak boleh memberikan
perhatian yang lebih pada satu siswa saja. Istilahnya pilih kasih, tapi kita
sebagai pendidik harus memberikan perhatian secara menyeluruh atau merata.
Memberikan beberapa penguatan. Penguatan di bagi menjadi dua, yaitu : penguatan
positif diantaranya memberikan reword, pujian, tepuk tangan dan sebagainya.
Sedangkan penguatan negativ diantaranya memberikan hukuman sesuai dengan
kesalahan peserta didik. Tapi kita sebagai calon pendidik hendaklah menjauhi
kekerasan dalam kegiatan belajar mengajar. Karena akan timbul suatu masalah
dalam lingkungan sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
http://qulhu43l3k.blogspot.com/2014/03/pengertian-ict-pembelajaran.html
https://bersamafai.files.wordpress.com/2010/12/makalah-pend-kejuruan.doc